Selasa, 06 November 2012

Catatan Mangunan 3 [Kebun Buah]


Kebun Buah Mangunan terletak di Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Lokasi ini berjarak sekitar 15 km dari ibukota Kabupaten Bantul dan 35 km dari pusat Kota Jogja. Lokasi ini mulai dibangun oleh Permerintah Kabupaten Bantul pada tahun 2003 di atas tanah seluas 23,3415 hektar pada ketinggian 150-200m di atas permukaan laut.

Lokasi wisata ini bisa ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dari Jogja dengan melewati jalan Imogiri. Sesampai di kota Kecamatan Imogiri, perjalanan diteruskan melewati jalan Imogiri - Dlingo  dengan jarak sekitar 5 kilometer yang harus dilalui dengan ekstra hati-hati  karena jalannya yang berkelok-kelok dan terjal. Kalau kamu  masuk lewat jalur timur  melalui Kecamatan Patuk Gunungkidul, dari perempatan Patuk mengambil jalan Patuk-Dlingo, kemudian sampai di pertigaan yang ada pohon beringinnya di Muntuk belok ke kanan melewati Hutan Pinus .Sesampai di ujung hutan pinus kita belok ke kiri menuju lokasi sekitar 2 km.

Titik ketinggian tersebut membuat kawasan ini memiliki udara yang sejuk serta pemandangan indah Pegunungan Seribu. Wisatawan dapat menikmati pemandangan yang sangat indah dari Kebun Buah Mangunan yaitu Pantai Parangritis pada bagian selatan, pemandangan Kota Bantul yang berada di bagian barat serta keelokan Sungai Oyo yang sangat curam. Kita juga dapat menjumpai populasi monyet yang juga terdapat di lokasi ini. Kita akan melihat berbagai macam buah-buahan yang ditata dengan apik sesuai dengan kondisi kemiringan bukit Mangunan antara lain  durian, mangga, rambutan, jambu air, jeruk, sawo, duku, serta manggis.

Di samping itu, terdapat pula buah-buahan lain yang jumlahnya relatif sedikit seperti  matoa, kelengkeng, jambu biji, cempedak dan belimbing. Untuk menambah kesejukan selain tanaman buah-buahan terdapat pula tanaman jati, king grass, pagar hidup berupa salak, magium dan pinus. Di area Kebun Buah Mangunan ini  juga terdapat pembibitan sapi.Tujuan pembibitan sapi ini selain untuk menambah populasi ternak sapi juga agar terjadi siklus yang berkesinambungan antara ternak sapi yang menghasilkan pupuk kandang untuk pemeliharaan tanaman buah-buahan di Kebun Buah Mangunan. Sedangkan fasilitas yang dimiliki oleh kawasan wisata ini antara lain Penginapan / homestay, Gedung Pertemuan, Kolam Renang, serta Kantor Manajemen sehingga Kebun Buah Mangunan menjadi salah satu agrowisata unggulan di Yogyakarta bagi peminat dan pemerhati pertanian.

Fasilitas lainnya adalah kebun buah, area outbound, atraksi flying fox, sepeda air, wisata petik buah, kolam pemancingan, Kolam Renang Anak, Kolam Ikan, Repling Area, Area Kapling Buah-buahan, Rest Area, Peternakan Kambing, Circle Track, Trail Track. Fasilitas  yang paling menarik untuk melihat pemandangan alamnya adalah Gardu Pandang .Kamu bisa  melihat pemkamungan yang sangat indah anatara lain Berkelok-keloknya Sungai Oyo dan Pegunungan Seribu di sekitarnya serta perkampungan penduduk  yang terlihat smar-samar di bawahnya. Selain itu, ada rumah kaca yang digunakan untuk pertanian hidroponik.

Kebun Buah Mangunan ini sangat cocok untuk wisata keluarga, pertemuan (meeting), pelatihan, wisata pendidikan lingkungan, outbond, dan lain-lain. Jadi kalau kamu ingin sejenak melepaskan kepenatan bersama keluarga sambil memberi pengetahuan lingkungan pada anak-anak, Kebun Buah Mangunan adalah pilihan yang tepat.

Catatan Mangunan 2 [Goa Gajah]




Goa Gajah merupakan salah satu tempat seru yang tidak boleh dilewatkan saat kamu ke Mangunan. Goa Gajah terletak di Pedukuhan Lemahbang, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, sekitar 15 kilometer sebelah tenggara Kota Bantul Yogyakarta atau sekitar 3 kilometer, selatan objek wisata Kebun Buah Mangunan. Nama goa gajah berasal dari adanya ciri khas gumpalan batu yang berbentuk menyerupai gajah di dalam goa.

Konon, gumpalan batu yang menyerupai gajah itu jelmaan dari seekor gajah yang tidak bisa naik untuk keluar dari goa. Dulu ada seekor kancil masuk ke goa itu. Si kancil tidak bisa naik untuk keluar. Kemudian gajah masuk ke goa dan menolong kancil. Kancil pun naik ke punggung gajah dan melompat ke luar. Malangnya, gajah tidak bisa naik untuk ke luar goa. Si gajah tertinggal di dalam goa dan lama-lama membatu.

Awalnya, goa horizontal sepanjang 200 meter ini dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk semedi/bertapa seperti halnya Sumber Bengkung. Setelah tidak ada lagi yang bertapa di sana, beberapa tahun yang lalu, goa ini dieksploitasi oleh sebuah perusahaan swasta untuk diambil tanahnya karena tanah di dalam goa mengandung fosfat.  Melihat adanya potensi sebagai objek wisata, maka beberapa pihak merasa perlu adanya pengembangan goa ini menjadi objek wisata. Saat ini pengembangan wisata Goa Gajah pun tengah dilakukan.

Seperti goa pada umumnya, kita bisa melihat stalaktit dan stalakmit di sepanjang lorong goa. Namun, ada yang unik dari goa ini, yaitu adanya kristal es di stalaktit dan stalakmit tersebut. Kristal es itu yang mempercantik goa gajah. Goa ini terbagi dalam beberapa lorong sebagai ruangan untuk keperluan bertapa orang-orang zaman dahulu, seperti Ruang Keputren, Pendopo, dsb. (Untuk lebih detailnya silakan datang langsung ke sana. Sudah ada tulisan-tulisan nama ruangannya ^^). Di dalam goa juga ada sarang kelelawar dan wallet yang bisa kita lihat langsung dalam jarak dekat ketika memasuki goa.

Perlu persiapan khusus nggak kalau mau masuk ke Goa Gajah?
Hanya saran,,kamu perlu membawa senter / lampu untuk masuk ke goa karena goa ini belum ada penerangannya (harap maklum, karena masih dalam proses pengembangan ;)). Lebih baik minta tolong juru kunci (kalau tidak salah, namanya Pak Somiran) untuk menemani masuk ke dalam goa. Hal ini bisa meminimalisasi risiko tersesat alias salah jalan. Hehhe.. FYI, dasar goa agak licin. Jadi, harus hati-hati jalannya. Rumahnya juru kunci ada di deket goa (bisa tanya ke warga setempat).

Goa gajah sudah dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan. Pernah ada yang shooting film di tempat ini.  Ada juga yang pernah mengadakan outbond di area goa gajah. Jadi, silakan segera kunjungi Goa Gajah. Sekalian mengadakan kegiatan dengan teman-teman atau kelarga di sana juga bakalan okee banget. :D

Oh ya, kalau minta tolong juru kunci, jangan lupa memberi sedikit balas jasa… ;)
Setelah ke luar dari goa, kamu bisa menikmati pemandangan alam yang indah tidak jauh dari atas goa (di gardu pandang). Jadi, kamu cukup berjalan beberapa meter dari atas goa. Bisa makan (kalau bawa bekal) atau sekedar melepas lelah di sana sambil foto-foto. Angin sepoi-sepoi di sana bisa membantu kamu untuk relaksasi..

Untuk informasi tentang Goa Gajah, sewa senter, pemandu atau penitipan barang bisa menghubungi Pak Somiran. Rumahnya di bawah area Goa Gajah.

Catatan Mangunan [Wisata Mangunan]



Mangunan, sebuah desa di Kecamatan Dlingo, Bantul, DIY. Kawasan ini terletak sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Jogja. Desa ini memiliki beberapa tempat yang seru untuk dikunjungi (baca: wisata). Ada Goa Gajah, Sumber Bengkung, Hutan Pinus, dan Kebun Buah Mangunan. Selain itu, kita bisa mengunjungi beberapa home industry kerajinan kayu (souvenier / mebel), kerajinan bambu, dan pengrajin makanan khas Mangunan (tiwul ayu dan makanan olahan singkong lainnya). Seperti apa tempat-tempat tersebut? Mari kita simak sedikit gambaran tentang Mangunan! 

Bagaimana Cara ke Mangunan?
Mangunan bisa ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dari Jogja dengan melewati jalan Imogiri. Sesampai di kota Kecamatan Imogiri, perjalanan diteruskan melewati jalan Imogiri - Dlingo  dengan jarak sekitar 5 kilometer yang harus dilalui dengan ekstra hati-hati  karena jalannya yang berkelok-kelok dan terjal. Kalau kamu  masuk lewat jalur timur melalui Kecamatan Patuk Gunung Kidul, dari perempatan Patuk mengambil jalan Patuk-Dlingo, kemudian sampai di pertigaan yang ada pohon beringinnya di Muntuk belok ke kanan melewati Hutan Pinus. Ujung hutan pinus itu sudah masuk kawasan Mangunan. Jadi, tinggal tentukan aja mau ke mana? (Lihat papan penunjuk arah :p)
konsep segitiga wisata Mangunan [gambar ini dibuat oleh Mas Ilul]
Kalau mau ngadain acara bareng temen-temen atau keluarga atau rekan kerja beberapa hari di Mangunan dan butuh homestay, bisa langsung menghubungi Mas Ilul (087739339636/08562976060). 

Rabu, 31 Oktober 2012

Seorang Wanita, Anak, dan Nenek Penghuni Rumah Itu



Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi beberapa rumah di pedalaman Mangunan. Saya, yang memang mudah terbawa perasaan, terharu sepanjang perjalanan.
Bagaimana tidak?
Rumah dengan bangunan seadanya. Rumah gedeg. Begitu, orang sini menyebutnya. Sangat seadanya. Bukan rumah tembok, hanya bangunan dengan dinding anyaman bambu beberapa petak, berlantai tanah dan atap yang sangat jauh dari kata ‘layak’.
Mata saya rintik-rintik ketika melihat seorang nenek tidur di sebuah rumah, berdinding anyaman bambu, beralaskan tikar, tanpa bantal, tanpa selimut. Pemandangan itu bertambah haru saat seorang wanita usia 20-an tahun keluar bersama anak kecil dalam gendongan. Seorang wanita, anak, dan nenek itu keluarga penghuni rumah.



“Ibu saya sakit sejak tahun lalu. Batuk tak kunjung sembuh. …”

Hati saya makin gerimis menyimak cerita sang wanita itu.
Kondisi yang selama ini hanya saya lihat di televisi, sekarang saya saksikan langsung.
Kondisi yang selama ini saya pikir tidak ada lagi di masa sekarang, ternyata ada di tempat yang tidak jauh dari tempat saya berpijak.

Allah, betapa sedikit syukurku pada-Mu…
Saya malu, terlalu banya pinta saya pada-MU.
Tempat tinggal yang layak, kesehatan, keluarga yang membahagiakan, kecukupan rezeki, orang-orang sekitar yang menyenangkan,…
Allah, hamba tak mampu menghitung-hitung karunia-MU.

Dan, saya memang hanya punya doa untuk dipanjatkan kepada-MU.
Semoga Engkau mengampuni.

Seorang wanita, anak, dan nenek itu.                  
Keluarga penghuni rumah itu.
Semoga Engkau selalu kuatkan mereka.
Ringankan hati ini untuk menyusun doa panjang untuk mereka…

Minggu, 28 Oktober 2012

Ternyata... [Biar Allah Saja]



Ternyata dia selama ini hanya berpura-pura saja..
Ternyata dia hanya berusaha menjaga perasaanku..
Ternyata dia hanya berusaha untuk tidak melukai perasaanku..
Ternyata…

Ahh..
Biarlah..

Saya tidak berhak menghakimi dia baik atau tidak baik.
Saya tidak berhak menilai dia tulus atau tidak tulus.
Saya yakin, dia memiliki alasan untuk mengambil tindakan.
Saya percaya, dia memiliki pertimbangan untuk memutuskan sesuatu.
Saya hanya bisa berasumsi yang entah benar atau tidak asumsi itu, yang entah akan terbukti atau tidak penilaian saya itu.

Banyak ‘ternyata’ yang sering saya temukan dan berarti saya memang tidak memiliki kapasitas yang baik untuk menilai seseorang.

Biarlah,,,
Karena yang terlihat oleh mata ini, dia baik.
Jadi tidak terlalu penting dia tulus atau hanya berpura-pura.
Dan dia yang akan bertanggung jawab atas ketulusan atau ketidaktulusannya di hadapan-NYA nanti, bukan saya.

Biarlah…
Hak menilai seseorang hanya milik Allah.
Diri ini terlalu banyak kekurangan.
Terlalu banyak ketidaksempurnaan yang melekat..

Semoga setiap ketidaktulusan yang kita temui bisa dijadikan pelajaran, bukan malah membuat hati retak..
Semoga ketulusan selalu mengiringi setiap langkah ini.
Saya yang harus tulus, bukan orang lain.
Sebab saya yang akan bertanggung jawab atas ketulusan atau ketidaktulusan di pengadilan-NYA nanti.
Sebab saya yang akan bertanggung jawab atas kebaikan atau ketidakbaikan di depan-NYA nanti.
Saya, bukan yang lain…