Sabtu, 12 November 2016

NHW # 4 MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Bidang ilmu yang paling saya sukai adalah membantu masyarakat terutama ibu2 untuk mengembangkan produktivitas ekonomi

Peran : fasilitator 

Ilmu yang harus dikuasai

Untuk menjadi seorang fasilitator, saya harus menguasai beberapa ilmu dasar seperti: 
1. Ilmu dasar fasilitator : 
Mass communication : bagaimana berkomunikasi yang baik dan efektif dengan orang lain atau masyarakat
Teknik fasilitasi : teknik dan metode yang benar untuk memfasilitasi/mempermudah kebutuhan orang lain atau masyarakat
Psikologi masyarakat : penting dipelajari agar hubungan dengan masyarakat berjalan dengan baik dan meminimalisasi masalah2 yang mungkin timbul
2. Ilmu praktis yang penting:
Public relation : bagaimana membuat dan menjalin relasi deng pihak2 yang dapat membantu masyarakat (pemerintah maupun swasta)
Marketing : bagaimana menjual produk atau menawarkan kerja sama dengan pihak2 untuk mengembangkan dan memberdayakan masyarakat
3. Ilmu monitoring dan evaluasi :
Agar dapat menilai seberapa besar efektivitas dan keberhasilan dari metode dan usaha yang dilakukan


Karena saya membatasi pada bidang kerajinan, maka saya pun harus menguasai teknik2 membuat kerajinan tangan dari hulu ke hilir.
Bagaimana dan dimana dapat memperoleh bahan dasar, bagaimana dan di mana belajar?

Milestone
Saya sudah memulai menjalankan peran ini tahun 2011, saat saya masih 21 tahun. Namun, sempat terkendala karena saya harus pindah tempat tinggal. Oleh karena itu, saya akan memulainya lagi di lingkungan masyarakat di tempat tinggal saya saat ini.
KM 0 pada usia 27 tahun
KM 0-KM2: menguasai ilmu dasar untuk seorang fasilitator : mass communication, teknik fasilitasi, psikologi masyarakat
KM 2-KM4: menguasai ilmu public relation dan marketing
KM 4-KM5: menguasai ilmu monitoring dan evaluasi

Sabtu, 05 November 2016

NHW#3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Hampir tiga bilangan tahun saya lalui bersama pasangan dalam bahtera rumah tangga. Tentu sudah banyak sekali cerita dan rasa yang terukir, sebelum dan sampai ada seorang bidadari kecil di antara kami.
Hidup kami semakin berwarna. Bermacam rasa dan asa. Dan kini, tengah ada calon pangeran di rahim saya. Bagaimana kami bisa berhenti bersyukur atas segala anugerah yang terlimpahkan dalam hidup kami?

Tiga tahun yang lalu, saya memutuskan untuk melepas kesendirian. Bukan tanpa alasan. Banyak alasan. Usia, merasa mampu, mau dan saya rasa ada calon yang "pas". Saya sulit menjelaskan kenapa saya mau menerima lelaki yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Lelaki yang belum benar2 saya kenal saat ijab qobul dilantunkan. Hanya saja, hati ini merasa "pas" dan tidak ada alasan untuk tidak menerima. Itu saja. Saya melihat ada iman dan ketaqwaan dalam diri lelaki itu. Mungkin sudah membuat saya merasa cukup.

20 Desember 2013 menjadi awal untuk banyak kisah. Saya harus mengabdikan diri saya pada lelaki itu yang seiring berjalannya waktu membuat saya semakin menyadari bahwa memang dialah yang tepat untuk menjadi imam saya. Dia yang mengerti saya. Dia yang menjadi penyeimbang untuk banyak kekurangan saya dan mungkin sebaliknya. Di saat saya "malas", dia menjadi yang "rajin". Di saat saya "lelah", dia menjadi yang "bersemangat". Begitulah saling melengkapi, insyaAllah. Meski terkadang banyak pula kesamaan di antara kami.

Belum genap satu tahun pernikahan, kami dikaruniai seorang bidadari kecil. Kami semakin bahagia. Assyifa Khansa Athifa, 29 Oktober 2016. Seorang anak yang lincah, selalu bersemangat, pantang menyerah untuk mencoba hal-hal baru dan pemberani (percaya diri). Di usia dua tahun ini, dia benar-benar seorang peniru ulung. Saya rasa masa golden age nya luar biasa. Cepat sekali dia menghafal kata atau perilaku yang pada akhirnya akan dia tirukan. Memori ingatannya sudah cukup panjang sehingga hanya butuh satu kali contoh. Dan dia sangat tertarik pada hal yang berbau elektronik. Cukup sekali dia melihat, bagaimana menyalakan kipas angin, AC, laptop, tv, ponsel, ipad, diapenser, dan yang lainnya. Setelah itu, dia sudah tau dan akan mencoba menirukan. Sebagian besar, dia berhasil tanpa bantuan. Peniru ulung.

Saya seorang ibu dan bekerja di luar rumah. Mungkin, waktu dan perhatian saya pada keluarga banyak tersita ketika saya tenggelam dalam pekerjaan kantor. Hanya saja, saya berusaha untuk tidak berkurang peran sebagai ibu dan istri saya di mata anak dan suami. Alhamdulillah, sejauh ini berhasil dengan adanya kerja sama yang baik dengan suami. Saya cenderung perfeksionis dalam hal mengasuh anak dan beberes rumah. Namun, akhirnya berkurang juga perfeksionisme itu karena saya membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukannya selama saya bekerja. 

Saya seorang yang detail, setiap planning harus jelas. Mungkin karena itu, saya dipertemukan dengan pasangan yang dapat berpikir strategis sehingga beban stress saya menjadi berkurang. Dia memang pantas menjadi ayah untuk anak-anak saya. Seorang imam yang baik yang menyemangati saat iman saya turun. Dan kami, memiliki keinginan yang sama untuk melahirkan anak-anak berkualitas di dunia dan akhirat. Setidaknya, menjadi hafiz, hafizah, insyaallah. Dalam mendidik anak, kami sepakat untuk memakai cara baru, tidak dengan cara yang sama persis seperti dulu orang tua mendidik kami. Tidak ada lagi mendoktrin dan menuntut anak untuk menjadi pandai saat sekolah dan harus bekerja di luar rumah setelahnya.

Kami tengah hidup di perantauan. Lingkungan kami sebagian besar muslim dan orang jawa. Cenderung religius. Intensitas berbaur dengan tetangga tidak banyak. Namun, kami saling mengenal. Setidaknya, jika ada tetangga punya hajat atau sakit, kami saling mengetahui dan bisa bersilaturahmi. Kerasnya hidup di tengah kota yang cenderung individual tidak begitu terlihat di lingkungan kami. Walaupun, kami pun tidak saling mengenal seluruh warga se RT tapi setidaknya kami mengenal tetangga di kanan kiri dan depan rumah. Cara mendidik anak setiap keluarga pasti berbeda. Namun, kami tidak pernah memaksakan yang lain untuk sama dengan kami. Saya bersyukur tinggal di sini. Zona aman dan nyaman sejauh ini. Saya ingin bisa berkontribusi pada masyarakat. Jika dulu saya pernah mengabdikan diri di lingkungan pedesaan, kini saya ingin mengabdikan diri di lingkungan perkotaan. Waktu saya memang lebih banyak di kantor daripada di rumah. Hal itu sedikit menjadi kendala untuk saya. Namun, saat ini alhamdulillah sudah bisa memberi sedikit kontribusi untuk TPA (Taman Pendidikan Al Qur'an) di lingkungan rumah. Semoga TPA menjadi lebih berkembang dan saya sekeluarga dapat memberikan lebih banyak kontribusi. Saya masih memiliki keinginan untuk berkontribusi di bidang kesehatan dan pengembangan keterampilan serta produktivitas ekonomi ibu untuk lingkungan saya sebagaimana latar belakang pendidikan dan pengalaman saya. Suatu saat nanti, insyaAllah.
  

@my sweet home, 6 November 2016

Jumat, 28 Oktober 2016

NHW#2 CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN

Sesuai NHW#2 kali ini, saya mencoba membuat list indikator baik sebagai individu, istri dan ibu. Ternyata cukup banyak dan saya rasa belum keseluruhan saya tulis. Daftar indikator untuk diri saya antara lain :
1.       Sebagai individu
a.       menjaga sholat lima waktu tepat waktu
b.       bertilawah setiap hari
c.       mendengarkan kajian/ ceramah minimal sekali dalam sepekan
d.       bersedekah setiap hari
e.       menelepon orang tua minimal sekali dalam sepekan
f.        bersilaturahmi ke tetangga minimal sekali sepekan
g.       tidak membicarakan keburukan orang lain
h.       berpakaian rapi saat di luar rumah
i.         bertegur sapa yang baik dengan orang yang ditemui
j.         menyambut kedatangan tamu dengan baik (salam dan ramah)

2.       Sebagai istri dan ibu
a.       menyambut suami dengan senyuman setiap bangun tidur
b.       menyambut suami dengan senyuman setiap pulang kerja
c.       menyiapkan makanan sehat dan bergizi untuk keluarga setiap hari
d.       tidak mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, terutama saat menemani keluarga di hari libur kecuali jika mendapatkan izin dari keluarga  
e.       berpamitan dengan cara yang baik saat akan keluar rumah (jabat tangan dan salam)
f.        mengucap salam saat masuk rumah dengan cara yang baik
g.       menginformasikan kepada suami dan anak keberadaan dan kondisi saat tidak berada di tempat yang sama (misal saat dinas)
h.       mengelola keuangan keluarga dengan baik dengan cash flow yang jelas dan dengan sepengetahuan suami (tidak boros dan tidak pelit/mencukupkan nafkah dari suami untuk kebutuhan keluarga)
i.         tidak membantah suami saat berdiskusi
j.         menyambut anak dengan senyuman setiap bangun tidur
k.       memberikan senyuman pada anak saat pulang kerja
l.         menabung untuk pendidikan anak
m.     menyediakan waktu untuk menemani anak (belajar, bermain, saling bercerita) minimal 1 jam sehari di hari kerja
n.       menyediakan semua waktu libur untuk keluarga
o.       membiasakan anak berpakaian rapi (dan berhijab)


Jakarta, 29 Oktober 2016 (tepat di hari lahir putri tercinta : Assyifa Khansa Athifa)

Sabtu, 22 Oktober 2016

NHW#1

Saya ingin memperdalam ilmu kepemimpinan karena fitrah manusia adalah sebagai pemimpin. Saya merasa ilmu kepemimpinan saya masih sangat dangkal sehingga saya perlu mengasahnya dan memperdalam. Dengan begitu, mungkin akan membuat saya menjadi lebih baik dalam mengasuh dan mendampingi anak.

Strategi yang akan dilakukan adalah dengan lebih memperbanyak waktu untuk mencari sumber ilmu, baik dengan membaca, mengikuti majelis ilmu seperti kelas matrikulasi ini, mencatat setiap hal baik yang penting, tidak menunda untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan sikap yang perlu saya perbaiki dalam menuntut ilmu ini adalah mencari sumber ilmu yang lebih banyak dan jelas kebenarannya. Selain itu saya juga perlu untuk menjaga konsistensi belajar, tidak dibatasi jam minimal setiap hari.

Minggu, 20 Oktober 2013

Dongeng tentang Purun

Sudah banyak yang menuliskan cerita tentang mimpi-mimpi. Kemudian dengan kegigihan berusaha, mimpi itu dapat terwujud. Sudah banyak yang menulis cerita tentang harapan-harapan. Tentang cita-cita. Yang dengan cara-cara tertentu pada akhirnya harapan dan cita-cita itu dapat tercapai. Setiap kita, pastinya memiliki cerita sendiri tentang mimpi, harapan atau cita-cita kita. Setiap kita memiliki cara sendiri. Bagaimana menggenggam, menjaga, membawa, meletakkan atau meninggalkan mimpi.

Dan ini…

Sebuah cerita tentang tokoh baru dalam dunia kerajinan yang mulai dikenal masyarakat luas. Ketika dia adalah sebuah tas anyaman, banyak yang bertanya,
“Apakah kamu bambu?”
“Bukan.”
“Lalu, apakah kamu pandan?”
“Bukan. Saya PURUN.”
“Apakah kamu berasal dari Jawa?”
“Bukan, saya dari Borneo.”
“Ceritakan kepadaku, di mana Borneo!”
“Borneo sebuah pulau terluas ke-3 sedunia yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa. Borneo terbagi menjadi tiga Negara dan ketahuilah, saya hidup dan berkembang di bagian selatan Borneo: Kalimantan Selatan, INDONESIA.”

Purun masih bercerita. Sesekali menghela nafas.
“Saya hidup dengan baik di tanah gambut. Saya hanya salah satu jenis rumput liar yang tumbuh subur di Indonesia. Jadi, hal yang wajar jika tidak semua orang mengenali saya. Hanya orang tertentu yang bersahabat baik dengan saya. Hanya pengrajin anyaman purun di Kalimantan Selatan yang akrab dengan saya.”

Ini adalah kisah Purun. Sekali lagi tentang Purun. Dia pada umumnya adalah anyaman: tikar, yang hanya berharga dua ribu sampai lima ribu rupiah. Dia sering kali kusam, pucat, pudar, tak berwarna. Namun, dia kini tak lagi hanya tikar. Lihatlah.. Dia tas. Dia dompet. Dia souvenir. Dia cerah. Dia menarik, mempesona.

Memang cukup sedih ketika tidak banyak orang yang mengenal purun. Lalu, saat mulai mengetahui purun, ada yang beranggapan bahwa purun tidak lebih kuat daripada bambu. Bahwa purun tidak lebih cantik dari pandan, mendong atau yang sejenisnya. Bahkan, banyak yang berpikir bahwa purun tidak lebih menarik dari semua itu.

Namun, purun berpikir dengan cara yang lain.
“Saya hidup dan berkembang di tanah Borneo. Saya melimpah di Kalimantan Selatan. Purun adalah icon baru bagi Kalimantan Selatan dan akan meningkatkan ekonomi Kalimantan, mengharumkan nama Indonesia, membawanya ke seluruh penjuru dunia. Purun adalah masa depan Kalimantan Selatan.”

Purun juga memiliki mimpi besar untuk masa depan Indonesia. Purun akan berbagi harapan untuk semua orang Indonesia. Purun akan menjadi cermin kreasi kebudayaan asli Indonesia yang mengkombinasikan potensi lokal dan tidak tertinggal zaman.

Apakah kamu berpikir, ini berlebihan?

Ada cerita tentang sebuah biji. Dia tumbuh menjadi beberapa akar dan terus tumbuh menjadi beberapa kelopak daun. Dia terus bertumbuh hingga menjadi sebuah pohon berbatang besar, bercabang dan beranting banyak serta berdaun rimbun. Biji itu kini menjadi tempat hidup banyak makhluk lainnya: burung.

Purun ingin seperti biji itu. Menjadi besar. Menjadi bermanfaat untuk sekitarnya. Untuk Indonesia. Sampai, suatu masa nanti ketika dia adalah tas atau bentuk yang lain, akan banyak yang bertanya,
“Apakah kamu PURUN?”

“Bukan, walaupun saya hidup di Kalimantan Selatan, bagian kecil dari Negara Indonesia.”

Sabtu, 13 Juli 2013

Selalu ada yang bisa di”petik”





Belajar tak harus dengan membaca. Melihat dan mendengar pun bisa jadi sarana belajar kita. Merasakan dan menghayati sesuatu pun tak ada salahnya untuk dijadikan sarana pembelajaran. Seperti pepatah yang mengatakan ‘banyak jalan menuju roma’. Demikian pula belajar, banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk belajar.

Hari ini saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah belajar menjadi public relation yang professional.  Untuk menjadi PR ternyata gampang-gampang susah. Namun, belajar dari pengalaman, ada beberapa tips yang bisa kita pakai untuk menjadi PR yang professional :
     1. Pahami bidang kerja kamu!
Kamu harus benar-benar paham dan mengerti bidang kerja kamu, posisi kamu dalam pekerjaan sebagai apa? Ya, intinya kamu mengerti siapa dirimu sendiri.

Misalnya, kamu PR dalam organisasi yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi remaja, so at least kamu mengerti ‘apa sih kesehatan reprodksi remaja itu?’, ‘apa sih PR itu?’, ‘apa tupoksi seorang PR dalam organisasi tersebut?’. Kalau belum tahu, coba cari tahu. Jangan segan untuk Tanya atasan. Atau kalau kamu staf/anggota baru, maka jangan segan Tanya pada orang yang sudah lebih dahulu di situ (yang berpengalaman di situ). Kalau terpaksa tidak ada orang yang bisa ditanya-tanyain, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang! Upst! Jangan!!! (just kidding ;D) cari sendiri referensi dari organisasi lain, kalau bisa yang serupa, kemudian bikin aja tupoksi baru yang bisa diadopsi dari referensi yang kamu gunakan.

Tupoksi itu bisa dijadikan batasan-batasan. Maksudanya, untuk membatasi kerja kamu. Hal-hal apa saja yang harus kamu lakukan, yang boleh kamu lakukan sampai yang tidak boleh kamu lakukan. Bisa juga dijadikan bahan penilaian kinerja. Dari tupoksi bisa ditentukan indicator pencapaian target.
     
     2. Kenali rekan kerja
Hal ini penting untuk memprediksi bagaimana kita bekerja dengan tim (rekan kerja) kita. Sebaiknya kita bisa memperlakukan orang lain sesuai dengan karakter masing-msing orang. Hal yang perlu kita sadari bersama adalah kita tidak bisa memperlakukan sama setiap orang. Setiap orang memiliki karakter masing-masing. Maka setiap orang perlu kita perlakukan sebagaimana karakter mereka masing-masing. Misalnya, kita selayaknya bertindak sabar menghadapi seseorang yang sifatnya emosional agar ketika membicarakan sesuatumenjadi tidak keruh suasananya. Namun, tindakan ‘sabar’ kita tidak harus kita lakukan pada orang yang sifatnya slow motion (baca:kerjanya super duper lambaaaaaaaaaaaaaaat). Kita sebaiknya bersikap tegas dan bersemangat di hadapan orang yang demikian agar bisa berbagi motivasi dan kerjaan cepat terselesaikan.

     3. Make a good first impression
Yak! Kesan pertama begitu menggoda… ciptakan kesan pertama yang baik pada partner kerja kamu. Terkadang kamu perlu menciptakan kesan yang membuat orang lain menghormati dan menghargai kamu sehinga setiap perkataan dan keputusan yang kamu ambil akan dipertimbangkan oleh rekan kerja (ga dianggap remeh)


#sekedar tulisan

Kamis, 14 Februari 2013

Ikut-Ikutan



Pernah ngerasa ada orang lain yang meniru kita ga? Meniru apapun. Ide, cara berpakaian, gaya bicara, gaya berpakaian, gaya duduk, dll. Intinya ikut-ikutan.

Beberapa kali saya merasa agak kurang nyaman karena ada orang lain yang ikut-ikutan. Saya punya ide ini, dia langsung ikutan. Saya lagi seneng membuat itu, dia ikutan juga. Hadeehhh. Kalau diitung-itung sih udah lebih dari tiga kali :p Dia, orang yang baru setahun saya kenal di tempat kerja.

Tidak Nyaman
Ya. Saya merasa tidak nyaman ada yang ikut-ikutan dan selalu berusaha menyamai saya.
“Rok kamu bagus. Aku pengen.”
Besoknya dia nyari rok yang sama seperti milik saya. Untungnya ga nemu yang sama :D

“Kamu sekarang bikin tas, ya? Saya juga mau bikin tas.”
Tuh kan?

“Kamu sekarang bikin kerajinan flannel? Saya juga mau.”
Nah tuh..

“Kamu masukin proposal ke provinsi? Saya juga mau masukin.”
*tepokjidat

Saya tidak nyaman dengan hal itu. Ini itu selalu diikuti. Tidak hanya sekali dua kali tapi hampir selalu.

Adakah teman-teman yang pernah mengalami ini?
I can’t control my emotion.

Butuh Model
Awalnya, saya merasa tidak masalah dengan hal ini. Wajar dan hak dia untuk menjadi seperti apa seperti siapa. Tapiiii… lama-lama ko risih juga ya diikutin mulu? :p

Dan beberapa waktu setelah menekan ketidaknyamanan yang saya rasakan, saya mencoba merenung dan mengambil hikmah. Apakah ada yang aneh dengan saya? Kenapa teman saya itu sering ikut-ikutan?

Seperti halnya menulis, pada awalnya di tahap latihan kita butuh model. Model untuk ditiru, sebelum nantinya kita menemukan karakter dan gaya kita sendiri. Mungkin begitu teman saya. Masih butuh model untuk hal-hal tertentu (tapi kenapa saya dan dalam banyak hal? :p)

Ketidaknyamanan saya muncul mungkin karena saya merasa belum pantas untuk dijadikan model, acuan. Saya merasa masih punya begitu banyak kekurangan.
Ahh…
Saya…
Setidaknya bisa menginspirasi orang lain dalam hal yang sederhana.

#Semangat memperbaiki diri :)